Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat mengubah tatanan ekonomi dan bisnis di dunia, termasuk Indonesia. Hal itu disampaikan oleh President/CEO PATA Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo dalam PATA Indonesia Youth Forum yang mengusung tema ‘Learn and Experience by Maximizing Social Media’ di Jakarta, 26 Oktober 2017.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Rudiana Jones dari Wita Tour, yang menjadi salah seorang pembicara. “Evolusi yang sangat cepat di bidang ticketing, misalnya, dengan diperkenalkannya e-ticket, membuat kemudahan-kemudahan yang mengubah secara langsung sistem tata niaga menuju e-commerce dan paperless,” ujar tokoh travel yang kini menjabat Vice President (National Board) ASTINDO itu.

Selain Rudiana, yang sekaligus menjadi moderator, ada tiga pembicara lainnya, yakni AB Sadewa, Vice President Panorama, Cipluk Carlita, Communications Manager, Indonesia & Phillippines, Twitter Indonesia, serta Burhan Abe yang mewakili blogger dan praktisi media sosial.

Rudiana Jones

Siapa yang tak kenal media sosial. Di masa sekarang ini, nyaris semua orang mempunyai akun di media sosial. Tak ayal, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Menurut pengamatan Cipluk, Indonesia termasuk salah satu pengguna aktif media sosial di dunia. Bahkan dalam beberapa tahun belakangan, media sosial telah mengubah berbagai hal – mulai dari personal hingga bisnis.

AB Sadewa

Media sosial adalah sebuah media online, dan para penggunanya bisa berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi.  Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, Path, Skype, untuk menyebut beberapa. “Masing-masing media sosial mempunyai karakter tersendiri, sehingga kita harus pandai-pandai menggunakan platform tersebut, sesuai dengan karakter media sosial tersebut dan tujuan yang ingin dicapai.”

Burhan Abe, yang juga co-founder MALE.co.id, menambahkan bahwa  dari total populasi Indonesia yang 256.2 juta, sekitar 65% yang sudah terhubung dengan Internet. Mereka yang aktif browsing biasanya, karena ada beberapa alasan. Di antaranya, karena: 1) Mencari informasi, 2) Berhubungan dengan pekerjaan, 3) Leisure, 4) Untuk bersosialiasi, 5) Pendidikan, dan 6) Hiburan.

Para pembicara Rudiana, Cipluk Carlita, Burhan Abe, dan AB Sadewa, bergambar bersama Sekretaris Jenderal PATA Indonesia, Ningsih A. Chandra (kiri) dan President/CEO PATA Indonesia Poernomo Siswoprasetijo (kanan)

Keinginan untuk bersosialisasi adalah salah satu perkembangan yang terpenting di bidang teknologi informasi, karena yang melahirkan platform-platform media sosial yang beragam dan semakin sophisticated.

Manusia adalah makhluk sosial, bahkan tidak berlebihan dengan perkembangan TI yang semakin maju, manusia modern – atau istilah yang populer di Indonesia saat ini ‘KIDS zaman now’ menyebut diri sebagai ‘We Are Social’. Fakta yang menarik adalah, dari  7,4 miliar penduduk bumi, 3,7 miliar di antaranya terhubung dengan internet, dan 2,5 miliar mengakses media sosial setiap harinya.

Pembicara AB Sadewa menyoroti beberapa perubahan yang terjadi, baik perilaku konsumen maupun tatanan bisnis di era dulu dan sekarang. Perilaku kaum muda, khususnya generasi milenials sekarang lebih independen dalam menentukan pilihan (tujuan wisata)-nya, dan dilakukan secara online.

Mereka tidak terlalu tertarik dengan informasi dari media konvensional, tapi lebih percaya kepada teman dan keluarganya dalam dalam menentukan tujuan wisatanya. Bahkan cerita dan pengalaman dari traveler lain menjadi daya tarik utama mereka. Itu artinya, peran media sosial yang menjadi media untuk mengunggah pengalaman, dan sebagai saranan untuk saling berinteraksi, sangatlah penting.

Itu sebabnya di era digital dan media sosial seperti saat ini, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata harus memahami arah dan kecenderungan pasar di masa depan. “Datangnya era digital tidak bisa dihindari, justru dunia bisnis, khususnya pariwisata, bisa memanfaatkan berbagai kemudahan-kemudahan tersebut yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi,” ujarnya.