Bumi kita satu. Udara kita sama.  Langkit kita serupa. Tetapi kenginan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya telah merusak harmoni. Nafsu telah memperbudak bumi. Lupa bahwa bumi pun hamba Tuhan yang bisa bicara dan beri tanda dalam bahasa simbol. Mari kita dengar keluh kesahnya. Luluh lantak tubuh bumi di hamper penjurunya. Sampai kapan kita memperkuda bumi untuk dukung kepentingan kita? Lupakah bahwa bumi ini dicipta dengan cinta?

Yogyakarta, 8 April 2016. Bermula dari antologi puisi mantra yang berjudul Mantra Bumi, Pusat Studi Kebudayaan UGM bekerja sama dengan Jaring Budaya Yogyakarta dengan dukungan penuh Omah Kecebong menggelar Perhelatan Sastra Religi Mantra Bumi. Menurut Ketua Panpel Wahjudi Djaja, SS., M.Pd, acara dilaksanakan di Omah Kecebong kawasan Desa Wisata Sendari Tirtoadi Mlati Sleman, 7 April 2016. Tujuannya, untuk menyadarkan kembali peran manusia sebagai pembangun peradaban. Seperti kata penyair legendaris WS. Rendra, kesadaran adalah matahari. Kita menyadarkan bahwa peran-peran kemanusiaan dan kebersamaan antar manusia dan manusia dengan bumi harus terus diperbarui.

Mantra Bumi merupakan antologi puisi karya Dr. Aprinus Salam, Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM yang diterbitkan dalam rangka memperingati kelahirannya yang menginjak usia 51 tahun. Baginya, ada semacam getaran halus yang meminta ia menulis puisi. Lalu, jadilah puisi yang disebut sebagai para mantra.

Sementara, Hasan Setyo Prayogo selaku pengagas Omah Kecebong, menjelaskan, acara ini sesuai dengan tujuan dalam membangun Omah Kecebong sebagai tempat untuk pelestarian budaya. Selama ini, penggagas selalu terlibat memberi dukungan untuk berbagai acara yang melibatkan seniman, sastrawan, dan budayawan dari Yogyakarta dan sekitarnya. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata  Arief Yahya, saat berkunjung ke Omah Kecebong. “Omah Kecebong harus di dikembangkan dan menjadi perhatian karena telah menjadi tempat untuk melestarikan budaya serta upaya untuk mensejahterakan masyarakat disekitarnya,” ujarnya.

Beberapa tokoh yang tampil diantaranya, GKRAy. Adipati Paku Alam X, R. Iman Budhi Santosa, Tegoeh Ranusastra, R. Bambang Nursinggih dengan Paguyuban Sekar Pangawikan, Daladi Ahmad, Bambang Eka Prasetya, Daru Maheldaswara, Bambang Darto, Like Suyanto, Wadie Maharief, Ana Ratri, Umi Kulsum, Savitri Damayanti, Indah Hijriana, Indah Ardiana, Krishna Miharja, Syam Candra, BudhiWiryawan, Maria Widy Aryani, Bram Makahekum, Umi Azzurasantika, Fajar Suharno, Meritz Hindra, Anes Prasetya, Sumanang Tirtasujana, Adjie S. Muksin, Dedet Setiadi, Totok Buchori, Gati Andoko, dll.

Selaras dengan visi dan orientasi Omah Kecebong untuk bersahabat dengan alam, menumbuh-kembangkan seni budaya dan menjadi oase pembelajaran tentang lingkungan.

Acara ini digelar menyongsong peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April. Juga merupakan momentum penting dan langka sekaligus solutif menuju tercapainya visi pembangunan Sri Sultan HamengkuBuwono I yang dikenal dengan konsep “hamemayuhayuningbawono”. Konsep pembangunan yang dahsyat dan berbasis kelestarian lingkungan itu harus menjadi dasar filosofis semua elemen. Kemasan acara ini bias menyadarkan, menggerakkan, dan memadukan segala potensi masyarakat demi tercapainya kehidupan yang damai penuh harmoni dan terbangunnya peradaban yang agung dan lestari.

Selain pembacaan dan musikalisasi puisi, acara ini dimeriahkan pula dengan berjalan di atas bara api untuk terapi kesehatan. Juga penanaman pohon langka sebagai penghijauan di lingkungan Omah Kecebong oleh Prof. Djoko Pradopo, Guru Besar FIB UGM, sastrawan Iman Budhi Santoso,  Dr. Yulianto dan Gus Nas.

Omah Cebongan – Sendari (Cebongan) Tirtoadi, Mlati,

Sleman 55287 Yogyakarta

Phone: 0817 029 0771

Email: omahkecebong@gmail.com