Mulai 3 Desember 2015, Sudakara Art Space di Sudamala Suites & Villas, Sanur, menjadi tempat pertunjukan inovatif yang menggabungkan dua pelukis Wayang yang begitu berseberangan, terinspirasi dari teater wayang kulit kuno di Bali. 

Sudakara Art Space di Sudamala Suites & Villas Sanur baru saja mengu-mumkan peluncuran pameran yang menyatukan dua seniman Bali hebat yang begitu berbeda, melalui ‘Eternal Line’ (Garis Keabadian) yang menyusuri waktu kembali ke masa awal lahirnya lukisan Bali yang terinspirasi oleh tradisi kuno pertunjukan wayang kulit.

“Eternal Line”, yang dibuka di Sudakara Art Space pada 3 Desember 2015 dan akan berlangsung hingga 3 Februari 2016 tersebut menghadirkan lukisan karya Mangku Muriati – seniman tradisional yang hasil karyanya banyak mengangkat pura-pura kuno dan rumah pribadi di Bali-, dan Teja Astawa, putra Sanur dengan kanvas besar, bersi-nar dan moderen miliknya yang meninggalkann lukisan tradisional khas Bali beserta tradisi Wayang, sekaligus seakan mengejek dengan jenaka aturan-aturan yang telah dipegang teguh masyarakat Bali selama ini.

Kedua seniman tersebut akan hadir pada Resepsi Pembukaan pada 3 Desember 2015, dan Press Preview pada 26 November yang berlangsung mulai jam17.30 hingga 19.00 WITA.

“Pameran ini telah direncanakan bertahun-tahun dan kami gembira sekali akhirnya terwujud juga,” ujar Direktur Sudamala Resorts, Emily Subrata. “Pameran ini menghubungkan kesenian Bali masa lampau, kini dan akan akan datang melalui hasil karya kedua seniman terbaik kami yang berbeda gaya namun bertautan erat dengan tradisi artistik yang telah dimulai pada saat lukisan Bali pertama dibuat dan terin-spirasi oleh wayang kulit.

‘Eternal Line’ telah menyatukan karya mereka, selain dedikasi seniman sejati yang senantiasa mengeksplorasi sisi kreatif dan menanggalkan batas-batas yang membeba-ni, sejalan pula dengan gagasan akan tugas, keluarga dan takdir.”

Mangku Muriati, seniman dan pendeta seperti ayahnya, Mangku Mura – salah satu seniman lukisan Wayang terbaik yang pernah ada – melukis dengan gaya yang dikenal dengan sebutan ‘Kamasan’ – namun secara teknis dirinya tidak dapat dikategorikan sebagai seniman ‘Kamasan’ karena bukan berasal dari Banjar Sangging, wilayah Desa Kamasan di mana pada abad ke-16 diduduki oleh Kerajaan Gelgel dan dilanjutkan dengan Klungkung, kasta pelukis yang mengembangkan gaya melalui pertunjukan Wayang kulit yang masih berlangsung hingga kini.

Seni yang berhubungan dengan Kamasan terus dikembangkan oleh sejumlah kecil seniman di desa-desa Bali lain, termasuk Mangku Muriati. Oleh karena itu, sebutan ‘lukisan Wayang’ lebih sesuai dengan hasil karya Muriati.  Lukisan menggambarkan masa dan karakter dari epik Hindu besar seperti Ramayana dan Mahabrata. Adegan-adegan rumit beserta karakternya digambarkan melalui profil tiga perempat, misalnya wayang kulit awalnya berwarna hitam, lalu diwarnai dengan rona alam seeprti merah kecoklatan, kuning, biru pucat dan putih. Oleh para pelukis jaman dahulu, palet tersebut didapat dari pigmen tanah liat, debu, tulang dan buah-buahan.

Sedangkan Teja Astawa adalah seniman yang sangat moderen, namun gaya lukisannya berevolusi sejalan dengan kecintaannya terhadap Wayang. Melalui proses otodidak yang penuh intuisi, dirinya mengembangkan gaya yang begitu berbeda dan berwarna, lengkap dengan teknik meta-narasi dan pasca-moderen, dengan subyek berupa tema keagamaan yang agung dan epik sampai hal-hal remeh dari kehidupan sehari-hari.

Kedua seniman mulai melukis saat berusia 7 tahun dan keduanya berbekal kreativitas tinggi dalam menjadi seniman yang serius menekuni bidangnya. Muriati menemukan ruang untuk menuangkan visi kreativitasnya dalam celah yang masih terbuka bagi in-terpretasi dari suatu lukisan Wayang, dan kedua pelukis menggunakan perspektif umum dari seorang pria maupun perempuan dalam menguak kebenaran atau membu-ka sisi lain dari cerita yang sudah sering didengar.

Wayan Seriyoga Parta, curator pada pameran tersebut berkata, “Keahlian mendalam Mangku Muriati dalam kerumitan dan pakem dari lukisan wayang menjadi platform dirinya untuk bermain dengan ikonografi wayang, yang sekaligus memudahkannya mencapai kreativitas yang melampaui persepsi lukisan wayang sebagai suatu seni konservatif.”

“Pameran ini mempersembahkan rangkaian hasil karyanya yang temanya berasal dari narasi epik Ramayana dan Mahabrata (narasi ajaran Hindu yang tersebar luas di Indo-nesia – terutama di Pulau Jawa dan Bali – oleh kerajaan Hindu-Budha Majapahit sejak tahun 1273 sampai 1527), cerita rakyat hingga berkembang ke permasalahan feminis, sejarah dan kebangsaan.”

Muriati belajar seni di Universitas Udayana, Denpasar, di mana dirinya meraih gelar Sarjana Seni dan pengetahuan mengenai seni moderen dan tradisi barat. Ia pun terus mengembangkan reputasi internasionalnya; lukisan-lukisan karyanya dipajang di Australian National Gallery, sebagai bagian dari Forge Collection, salah satu dari koleksi lukisan Wayang terpenting yang pernah ada.

Astawa memulai dengan gambar besar dan tema yang luas sembari membiarkan sum-ber inspirasinya berkembang saat melukis. Seniman masa kini yang sangat bebas berkarya dengan menghasilkan lukisan bertema tentang kekuasaan yang bertendensi untuk korup dan mereka yang berperilaku bodoh yang menginginkannya, atau tentang masalah sehari-hari seperti kekurangan buah, burung yang agresif dan peristiwa Bom Bali 2002. Dirinya seakan mengejek penghinaan yang sering didengar setiap hari yang jarang dibalas seseorang, saat melihat hasil karyanya yang terinspirasi oleh cerita yang begitu diagungkan dalam tradisi masyarakat Hindu dan Buddha, dengan segala pertempuran di langit yang mereka lakuka, bentrok antar raksasa, aram-temaram dewa-dewa dan keonaran lain.

Menurut Kurator Wayan Seriyoga Parta, karya Astawa memutar format tradisional ke arah yang absurd dan jenaka. “Lukisannya menggambarkan visi yang kabur dimana ingatan bawah sadar dan fantasi spontan dibiarkan tumbuh liar dan menciptakan narasi tanpa batas dari fenomena kehidupan sehari-hari,” ujarnya. “Astawa melakukan reinkarnasi struktur dari lukisan wayang dan mendomestikkan lukisan tersebut dengan gaya dan ekspresi bahasanya sendiri.”

Seorang ahli dalam seni Indonesia dan periset University of Sydney, Siobhan Camp-bell, yang juga menulis esai sambutan ‘Eternal Line’, merujuk pada keragaman pengaruh terhadap hasil karya Teja Astawa, yang didapat dari kakeknya seorang pewayang kulit dan seniman asal Jawa, Widayat, melihat pameran lukisan karya Jean Michael Basquiat di Sanur pada 2005 lalu, dan pameran seni Kamasan 2009 lalu juga di Sanur. “Hasil karya Teja saat ini meliputi rasa yang mendalam akan kebebasan dan bereksperimen dengan manipulasi ikonografi tradisional Bali,” tulis Dr. Campbell.

“Hal sama berlaku untuk Mangku Muriati yang menantang gagasan kita terhadap tradisi yang tak lekang waktu dan orisinalitas. Sesaat ia begitu terlihat mengikuti tradisi, hasil karyanya cukup jelas merujuk pada dimensi inovatif. Kedua seniman ter-sebut menegaskan pengertian baru dari kebudayaan tradisional dan bagi saya, apa yang telah mereka capai sangatlah berkualitas.”

Ny. Emily berkata Sudakara Art Space sudah lama berdiskusi dengan Astawa sejak 2012 lalu untuk memamerkan karyanya dan dirinya sangat gembira bahwa pameran ini akhirnya terwujud, dengan bonus tambahan hasil lukisan Mangku Muriati yang berada di ruang yang sama untuk pertama kalinya.

Menurut Emily, pameran ini akan diresmikan pada 3 Desember 2015 dengan Dia-log Seni dan Kebudayaan untuk memperkenalkan ‘Eternal Line’, dengan pembicara yang terdiri atas: I Wayan Seriyoga Parta (Kurator Seni), Ida Bagus Agastia (Sastrawan dan ahli Sastra Jawa Kuno), Rain Rosidi (Kurator Seni – Direktur Seni Jogja Biennale 2015) dengan moderator Warih Wisatsana (Sastrawan – Direktur Taman Budaya Bali).