Ipsos Consulting: Cetak 3D, Peluang Revolusi Industri Kreatif & Konstruksi di Indonesia.

0
204

Bagi generasi milenial di seluruh dunia, belanja online mungkin sudah nyaris menjadi hal lumrah. Lihat sesuatu yang Anda suka? Setelah beberapa kali klik, produksi canggih yang besar dan proses logistik akan memastikan barang yang dibeli akan sampai di rumah Anda. Tapi bagaimana kalau prosesnya bisa lebih sederhana? Bagaimana kalau “mencetak” pembelian yang dilakukan di rumah Anda sendiri? Tapi kenapa berhenti hanya pada belanja? Bagaimana kalau mencetak makanan Anda sendiri? Kedengarannya terlalu aneh? Contoh-contoh sebelumnya adalah beberapa dari banyak sensasi yang mungkin sudah Anda dengar tentang apa sebenarnya yang bisa dilakukan dengan cetak 3D. Seperti halnya teknologi baru, fakta dan mitos sering berbaur dalam semua sensasi ini.

“Tidak diragukan bahwa cetak 3D memiliki potensi untuk merevolusi berbagai industri dan  pasar di China,” kata Wijaya Ng, Direktur Consulting di Ipsos Bisnis Consulting – Greater China. “Masalahnya adalah begitu banyak klaim yang aneh-aneh apa yang dapat dilakukan oleh teknologi ini – ada yang benar-benar percaya bahwa organ tubuh manusia dapat dicetak di rumah Anda sendiri – sehingga banyak perusahaan tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang bagaimana mendapatkan manfaat dari teknologi ini.”

Penelitian baru dari Ipsos Business Consulting mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan aktif di China memiliki kesempatan untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang cukup besar di pasar cetak 3D di China dengan menghilangkan sensasi tentang teknologi ini dan menjembatani kesenjangan pengetahuan antara produsen peralatan dan pengguna akhir (konsumen). Wijaya Ng mengatakan bahwa strategi yang paling sederhana untuk membangun industri cetak 3D di China adalah dengan mengkomunikasikan secara jelas aplikasi praktis dari teknologi ini kepada pengguna akhir.

Sentimen ini juga sampai ke Indonesia. Kebanyakan orang di Indonesia belum memiliki pengetahuan tentang aplikasi praktis cetak 3D ataupun keterampilan yang diperlukan untuk mengoperasikan teknologi ini. Bahkan di antara mereka yang mengerti teknologi ini, hanya segelintir yang melihat kebutuhan akan kemampuan cetak 3D untuk pembuatan prototipe dan pembuatan komponen-komponen rumit.

Domy Halim, Country Manager Ipsos BC Indonesia, mencatat bahwa industri-industri manufaktur berteknologi tinggi dan penelitian dan pengembangan bidang medis yang bisa memanfaatkan teknologi cetak 3D ini sebagian besar terkonsentrasi di Amerika Serikat dan Eropa. Kondisi di Indonesia saat ini terlihat semakin berkembang. Dalam hal ini, potensi cetak 3D di Indonesia yang belum terpenuhi akibat kurangnya informasi yang akurat dan tenaga kerja terampil di lapangan mirip dengan situasi di China.

Juanri, Konsultan di Ipsos BC Indonesia, mengakui tantangan ke depan, “Biaya yang relatif tinggi dan kompleksitas pengoperasian mesin cetak 3D membuat teknologi ini saat ini sulit dijangkau oleh para pengguna mainstream di sini”.

Akibatnya, permintaan akan cetak 3D di Indonesia tersegmentasi ke ceruk pasar di industri kreatif, seperti penggemar berat mainan yang ingin membuat mainan plastik sendiri dan desainer-desainer avant garde yang ingin membuat prototipe-prototipe dari konsep desain mereka. Dengan bantuan dorongan dari pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri kreatif dalam negeri, dapat di yakini bahwa teknologi cetak 3D akan dapat mengembangkan potensi nya di sektor ini.

Justru area di mana cetak 3D bisa mengubah kondisi bagi kedua negara dalam jangka waktu lebih dekat adalah sektor konstruksi. Awal tahun ini, WinSun China telah menunjukkan kemampuan untuk membangun keseluruhan bangunan menggunakan bantuan teknologi cetak 3D. Perusahaan mengklaim bahwa proses ini tidak hanya lebih murah dan lebih cepat daripada proses dengan metode konvensional, tetapi juga menyediakan lingkungan kerja yang lebih aman serta memiliki dampak yang lebih sedikit terhadap lingkungan. Perusahaan ini telah banyak mendapat liputan atas upayanya ini.

Domy Halim optimis tentang masa depan teknologi ini di bidang konstruksi dan industri kreatif. Aplikasi cetak 3D ini memiliki potensi yang luar biasa untuk Indonesia dalam waktu dekat. Industri medis dan manufaktur berteknologi tinggi keduanya memerlukan sejumlah besar tenaga kerja berpendidikan tinggi dan spesialis, dua faktor penting ini yang Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara seperti China dan Amerika Serikat. Di sisi lain, aplikasi cetak 3D dalam industri konstruksi hanya membutuhkan pembelian/sewa/lisensi dari teknologi ini. Dengan demikian, transfer pengetahuan dapat dilakukan jauh lebih lancar.

“Meski begitu, peraturan pemerintah yang belum memadai menyangkut keamanan bangunan hasil cetak 3D menghambat potensi teknologi ini. Setelah peraturan pemerintah di kedua negara dapat mengimbangi teknologi ini, kami berharap teknologi ini dapat segera diadopsi di sektor konstruksi,” ujarnya.