Indonesia: Lima Besar Dunia untuk SDM

0
717

opportunitiesIndonesia adalah negara ke-empat dunia dengan modal tenaga kerja dan sumber daya manusia terbaik dan menduduki ranking ke-sepuluh untuk pertumbuhan dan ekonomi, menurut Indeks Dinamika Global Grant Thornton (Grant Thornton Global Dynamism Index/GDI) tahun 2013 yang menakar dan meranking lingkungan pertumbuhan ekonomi dari 60 negara dengan ekonomi yang kuat.

 

Kapabilitas modal tenaga kerja dan sumberdaya manusia yang kuat dihasilkan dari berbagai macam faktor yang termasuk diantaranya adalah pertumbuhan produktivitas tenaga kerja, tingkat pengangguran, serta waktu yang dihabiskan untuk pendidikan dan umur populasi.

 

“Indonesia naik ke lima besar dibandingkan tahun 2012,” kata Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia. “Peluang-peluang bisnis sangat kuat di Indonesia namun masih membutuhkan orang-orang yang tepat untuk menerjemahkan peluang-peluang tersebut agar menjadi pertumbuhan. Sumberdaya manusia yang tepat akan bisa meningkatkan produktivitas, menghemat waktu dan biaya organisasi/perusahaan serta pada akhirnya akan bisa mengembangkan bisnis, terutama di negara dengan populasi yang muda dan ambisius. Hal ini mencerminkan kondisi Indonesia saat ini dimana rata-rata usia produktifnya 28.5 tahun,” katanya.

 

growthDalam hal ekonomi dan pertumbuhan,  sebuah lingkungan bisnis yang dinamis membutuhkan tuntutan yang sesuai dengan produk dan layanan untuk berkembang. Pasar-pasar baru seperti Indonesia cenderung memiliki keuntungan dalam kategori ini, khususnya karena negara ini kaya sumber daya alam seperti mineral,  hutan tanaman industri dan sumber panas bumi. Walaupun saat ini ada defisit perdagangan, Indonesia sedang merencanakan untuk melonggarkan undang-undang ekspor, misalnya untuk biji mineral guna mendorong perdagangan. Indonesia juga mendapatkan keuntungan dari tenaga kerja dengan upah terjangkau yang memberi potensi pertumbuhan di tahun-tahun mendatang.

 

Didirikan bersamaan dengan lembaga survei Economist Intelligence Unit, GDI menakar dinamika 60 negara dengan ekonomi yang kuat. Dinamika tersebut mengacu pada perubahan-perubahan dalam sebuah negara yang kemungkinan akan membawa tingkat pertumbuhan yang cepat di masa datang dan GDI meranking perkembangan dari lingkungan pertumbuhan bisnis dari tiap negara pada tahun sebelumnya. Tingkat ekonomi negara di ranking atas 22 indikator dari lima kategori: lingkungan operasional bisnis, ilmu pengetahuan dan teknologi, modal tenaga kerja dan SDM, lingkungan keuangan, ekonomi dan pertumbuhan.

 

irW_EbaWpeQISeperti sejumlah kekuatan ekonomi yang baru muncul lainnya di kawasan Asia Pasifik, Indonesia memiliki kinerja baik dan melampaui kekuatan-kekuatan ekonomi lain yang baru muncul di Afrika serta kekuatan ekonomi yang sudah mapan di Eropa Timur. Secara keseluruhan, Australia menduduki ranking pertama pada Indeks Dinamika Global 2013, namun Indonesia mendapat penilaian lebih baik dari Australia terkait dengan beberapa faktor kunci: presentasi jumlah penduduk berusia dibawah 30 tahun (Indonesia 54%/Australia 23%); pertumbuhan produktivitas tenaga kerja dibandingkan dengan tahun 2012 (Indonesia 79%/Australia 56%) dan pertumbuhan riil GDP dibandingkan dengan tahun 2012 (Indonesia 90%/Australia 70%).

 

Tentang Grant Thornton Global Dynamism Index

Indeks Dinamika Global Grant Thornton (Grant Thornton Global Dynamism Index/GDI) adalah riset tahunan yang dilakukan oleh lembaga survey Economist Intelligence Unit (EIU). Indeks ini menakar pertumbuhan lingkungan bisnis dari 60 negara dengan ekonomi yang kuat di dunia berdasarkan 22 indikator dinamika dari lima kategori. Dinamika mengacu pada perubahan-perubahan dalam sebuah negara dalam kurun waktu 12 bulan yang kemungkinan akan menuju tingkat pertumbuhan yang cepat di masa mendatang.

 

Untuk mengetahui lebih banyak mengenai GDI kunjungi www.gti.org/thinking atau untuk mengakses indeks secara lengkap kunjungi www.globaldynamismindex.com.

 

Indikator

Kategori dan indikator ditetapkan berdasarkan analisa para pakar di Economist Intelligence Unit (EIU). Indikator disimpulkan dari beragam sumber, termasuk EIU, Bank Dunia,  Thomson Financial dan UNESCO.

 

Survei

Jajak pendapat dilakukan oleh tim Thought Leadership di EIU meminta 406 eksekutif senior untuk menempatkan pentingnya setiap indikator untuk pertumbuhan mereka. Semua responden adalah top eksekutif selevel CEO atau COO (C-Suite), memiliki peran pengambil keputusan dalam berbagai sektor dan kawasan geografis. Hampir separuh dari mereka berasal dari bisnis dengan penghasilan global tahunan melebihi US$500 juta.

 

Tentang Grant Thornton International Ltd

Grant Thornton adalah salah satu organisasi terkemuka yang bergerak di bidang asuransi independen, pajak dan layanan advisori. Perusahaan ini membantu dinamika organisasi untuk membuka potensi pertumbuhan mereka dengan menyediakan saran dan masukan yang berarti dan berpandangan ke depan. Dipimpin oleh mitra-mitra yang mudah didekati, perusahaan ini memiliki tim-tim proaktif yang mengunakan pemikiran, pengalaman dan insting untuk memahami isu-isu yang rumit untuk beragam klien dari perusahaan dengan kepemilikan pribadi,  perusahaan yang sudah terdaftar di pasar bursa dan sektor swasta serta membantu mereka untuk menemukan solusi. Lebih dari 35,000 karyawan Grant Thornton, tersebar di lebih 100 negara, memusatkan perhatian untuk memberi perbedaan bagi klien, kolega dan komunitas dimana kami tinggal dan bekerja.

 

“Grant Thornton” mengacu pada merek dimana perusahaan-perusahaan anggota yang berada dibawah Grant Thornton menyediakan layanan jasa asuransi, pajak dan konsultasi bagi klien mereka dan/atau mengacu pada satu atau lebih perusahaan yang berada dibawah Grant Thornton, tergantung pada konteksnya. Grant Thornton Indonesia adalah perusahaan dibawah Grant Thornton International Ltd (GTIL). GTIL dan perusahaan dibawahnya tidak bermitra di seluruh dunia. GTIL dan masing-masing perusahaan adalah entitas hukum yang berdiri sendiri. Layanan diberikan oleh perusahaan-perusahaan anggota. GTIL tidak menyediakan layanan pada klien. GTIL dan perusahaan anggotanya bukan agen dari satu sama lain dan tidak memiliki kewajiban serta tidak bertanggungjawab atas tindakan atau kelalaian satu sama lain.