“Knights of the Golden Empress” by Rahayu Supanggah – Elly D Luthan

0
1885

Opera Klasik Jawa Mengenang Maestro Batik Dunia Iwan Tirta

Kamis, 4 Juli 2013 – The Dharmawangsa, 19.00WIB

Ilustrasi
Pada hari Kamis 4 Juli 2013, bertempat di Grand Ballroom Hotel The Dharmawangsa, sebuah pertunjukan opera klasik Jawa untuk mengenang maestro batik dunia, Iwan Tirta, akan digelar di hadapan publik dalam program Royal Dinner, sebuah program yang diinisiasi oleh majalah The Peak (Berita Satu Media Holding).

Opera klasik Jawa berjudul Knights of the Golden Empress ini digarap oleh produser Bram & Kumoratih Kushardjanto (Gelar) dan dua orang tokoh dalam dunia seni pertunjukan tradisi yaitu Rahayu Supanggah dan Elly D Luthan yang mana keduanya memiliki kedekatan dengan Iwan Tirta. Rahayu Supanggah adalah komposer karawitan yang memiliki reputasi dunia dan lebih banyak dikenal oleh publik internasional. Sedangkan Elly D Luthan adalah koreografer yang sangat intens menggeluti beragam bentuk tari yang berpijak dari tradisi, terutama Jawa klasik. Lakon opera mengambil  kisah klasik dari naskah kuno Serat Damarwulan dengan setting kejayaan Majapahit, dimana seluruh pemain akan mengenakan kain-kain karya dan koleksi almarhum Iwan Tirta.

BATIK, TARI dan KERATON

Batik dan Tari. Bagi Iwan Tirta, hubungan antara keduanya tidak bisa lepas satu dengan lainnya. Di dalam khazanah kesenian Jawa terlebih lagi. Batik tidak semata-mata menjadi kostum yang nantinya memperindah sebuah koreografi. Namun lebih daripada itu, ia turut menjadi nyawa di dalam setiap bentuk tari. Karakterisasi dari setiap penari, setiap tokoh yang dibawakan dan seterusnya, akan tampak jelas melalui corak batik yang ada di tubuh setiap karakter. Namun kini, ikatan antara batik dan tari seringkali terabaikan seiring dengan perjalanan jaman.

Memang kini batik telah meluas penggunaannya mulai dari siswa taman kanak-kanak hingga pemimpin negara ini mengenakan batik. Namun itu saja tidak cukup. Batik adalah sebuah ekspresi kebudayaan dari bangsa Indonesia. Ia merupakan identitas bagi siapapun yang memakainya. Adalah sangat disayangkan apabila batik dianggap busana semata. Hal inilah yang pernah diamanahkan Iwan Tirta pada Bram dan Kumoratih Kushardjanto dari Gelar, ketika memproduksi pentas retrospeksi Iwan Tirta melalui tari Bedhaya & Srimpi (2003) dan opera Tandhing Gendhing (2006-2007).


Kini, dalam rangka mengenang Iwan Tirta, maka posisi Batik diletakkan kembali ke dalam konteks kebudayaannya. Melalui pergelaran ini, pemirsa diajak kembali ke sebuah situasi dimana Batik menjadi sebuah jati diri kebudayaan, dimana akan disaksikan Batik sebagai karya agung budaya Indonesia, yang akan dibingkai dalam opera Jawa. Sehingga kita dapat melihat puncak keindahan Batik yang lebih bersinar, dalam balutan suasana budaya yang begitu melekat.

Koleksi batik klasik Iwan Tirta akan diperagakan oleh para penari klasik tradisional Jawa melalui sebuah opera klasik tradisi yang juga merupakan mahakarya dari para maestro seni pertunjukan klasik tradisional Jawa warisan masa lampau.

Alasan utama untuk menggelar peragaan busana adibusana melalui format opera/seni pertunjukan klasik yang menggabungkan seni tari, akting dan olah vokal ini, tak lain karena ekspresi keanggunan, keagungan dan keindahan batik klasik tersebut akan muncul jika batik diletakkan dalam satu kesatuan estetika yang terbingkai dalam konteks kebudayaan yang melahirkannya. Yang mana, ekspresi tersebut boleh jadi tak akan muncul jika dipamerkan dalam bentuk peragaan busana biasa yang terlepas dari akar tradisinya. Iwan Tirta kerap memamerkan karya-karyanya melalui seni pertunjukan, khususnya seni tari yang berasal dari keraton atau court art.

Puluhan kali Iwan Tirta menggelar tari bedhaya dan srimpi, serta mendukung beberapa garapan langendriyan. Ini membuat kontribusi Iwan Tirta di dunia seni pertunjukan khususnya court art menjadi sangat tinggi. Iwan Tirta sangat lekat dengan seni pertunjukan. Selain itu, retrospeksi yang dilakukan Iwan Tirta tak dapat dilepaskan dengan hubungan beliau yang amat dekat dengan 6 kerajaan di Jawa. Beberapa motif klasik keraton tak luput dari sentuhannya untuk dilestarikan dan dikembangkan.

By Elly D Luthan
RETROSPEKSI IWAN TIRTA

Sudah dua kali Gelar bersama almarhum Iwan Tirta melaksanakan program yang bernama Retrospeksi Iwan Tirta, Tahun 2003 adalah awal mula program Retrospeksi Iwan Tirta. Dilaksanakan di Pakubuwono Residence, program ini diadakan dengan memamerkan batik kuno dan klasik koleksi Iwan Tirta. Dalam kesempatan ini, ditampilkan sebuah rekonstruksi busana tari melalui tari Bedhaya Pangkur karya cipta Sri Susuhunan Pakubuwono X.

Tiga tahun setelah itu, Gelar melaksanakan kembali Retrospeksi Iwan Tirta dengan materi yang berbeda. Diawali dengan keinginan almarhum Iwan Tirta untuk memamerkan kain-kain batik berukuran besar karya beliau keatas panggung, Gelar merespons keinginan tersebut dengan memberikan ide untuk sebuah opera Jawa atau langendriyan yang menggunakan kostum tari adi busana yang biasa disebut dengan dodot. Sebuah Opera berjudul Tandhing Gendhing (A Battle of Wits) diproduksi dan dipentaskan untuk pertama kali di The Dharmawangsa Jakarta, dan kemudian dipentaskan keliling ke Surabaya, Solo, Cirebon, Pekalongan dan kembali ke Jakarta.

Tahun ini kami ingin menghadirkan kembali spirit Iwan Tirta. Meskipun beliau sudah tiada, namun kontribusi beliau di dunia seni pertunjukan cukup penting. Tetap dengan cara yang sama, kami akan membawa keindahan batik-batik karya Iwan Tirta melalui panggung seni pertunjukan. Melalui seni pertunjukan kami ingin membuat sebuah penghormatan terhadap karya-karya beliau.

Mata Atih
KEJAYAAN MAJAPAHIT : INSPIRASI PARA PUJANGGA

Opera Jawa yang diberi judul Knights of the Golden Empress ini terinspirasi dari naskah tua Serat Damarwulan, yaitu legenda zaman keemasan Majapahit dimana imperium ini diperintah oleh seorang ratu. Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia, yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha  terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.

Dari sekian banyak karya sastra yang terinspirasi dari kejayaan Majapahit adalah legenda Damarwulan. Kisah ini cukup populer di tengah masyarakat dan banyak terdapat versi lakon, sendratari ataupun cerita tertulis yang telah dibuat mengenainya. Menurut DR. Sri Margana cerita Damarwulan dan Prabu Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda maupun Serat Damarwulan oleh sastrawan dari Keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk langendryan (opera) oleh Mangkunegara IV (1853-1881). Kisah inilah yang akan di re-interpretasi oleh Elly D Luthan bersama Rahayu Supanggah.

Ilustrasi
DASAR PIJAKAN KONSEP GARAPAN

Garapan opera Knights of the Golden Empress ini berangkat dari referensi seni pertunjukan klasik tradisi, antara lain adalah langendriyan. Langendriyan adalah salah satu bentuk teater tari tradisional yang memiliki posisi penting pada masanya. Langendriyan diciptakan pada masa abad ke-18 di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Raden Mas Haria Tandasukuma, menantu dari Mangkunegara IV (1853-1881) menciptakan versi Surakarta, sementara Tumenggung Purwadiningrat dan Pangeran Mangkubumi menciptakan versi Yogyakarta (1876). Langendriyan diiringi dengan orkestra gamelan, dimana dialog para pemain menggunakan tembang. Langendriyan memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, sehingga menuntut kemampuan yang prima dari para seniman pendukungnya, mulai dari olah tari, vokal hingga kemampuan teater.

Garapan tari Knights of the Golden Empress ini menggunakan pola garap dasar yang terdapat pada tari klasik Jawa gaya Surakarta dan pengembangannya. Pengembangan dilakukan dengan melakukan re-interpretasi genre yang ada pada tari klasik seperti wireng, bedhaya, langendriyan dan wayang wong. Oleh karena itu, garapan ini memiliki keleluasaan di dalam menginterpretasikan cerita dan penokohan. Penggunaan sembilan penari sebagaimana yang ada dalam bedhaya dapat memerankan karakter tokoh tertentu, yang dalam saat bersamaan dimungkinkan melebur dan beralih fungsi karakter untuk memperkuat suasana maupun menarikan simbolisasi cerita. Pengungkapan ekspresi juga dilakukan dengan menggunakan dialog melalui tembang-tembang Jawa sebagaimana yang ada pada bentuk-bentuk opera.

PARA MAESTRO YANG TERLIBAT

Iwan Tirta (alm)

Nursjirwan Tirtaamidjaja, SH (Iwan Tirta) lulus sebagai sarjana hukum dari Universitas Indonesia di Jakarta, kemudian menjadi dosen dalam Hukum Internasional dan sesudah itu melanjutkan studinya di London pada School of Economics and School of Oriental & African Studies. Sekembalinya ke tanah air, ia diangkat menjadi Associate Professor dalam Ilmu Hukum Internasional di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Di tahun 1964 Iwan Tirta melanjutkan studi di Yale University, New Haven, Connecticut (USA) dan mendapat gelar Sarjana Hukum di tahun 1965. Pada tahun 1968 ia memperoleh fellowship dari Yayasan Adlai Stevenson di Perserikatan Bangsa-bangsa di New York, lalu kembali ke Jakarta tahun 1970. Kegemaran akan seni rupa mendorongnya untuk mengadakan penelitian tentang seni batik dan hasilnya adalah sebuah buku berjudul Batik, Patterns and Motifs. Ia juga memperoleh beasiswa untuk mempelajari tari-tarian keraton Jawa Tengah, yang diberikan oelh Yayasan John D. Rockerfeller III di New York. Beberapa publikasi telah diterbitkan disini. Sebuah buku lain yang menarik adalah Batik the Magic Cloth hasil kerjasama dengan Raymond Lau, yang disponsori oleh Pertamina pada tahun 1974. Pada tangal 7 Juni 1996 diterbitkan sebuah buku tentang seni batik berjudul Batik a Play of Light and Shades. Iapun makin memusatkan perhatiannya ke bidang seni desain batik. Pameran batiknya yang pertama Menghidupkan Kembali Motif-motif Kuno berlangsung di Jakarta pada tahun 1973, disusul pameran-pameran lain didalam maupun diluar negeri, seperti di : Sydney, Singapore, Melbourne, Canberra, Kualalumpur, Bangkok, Hongkong, Tokyo, Kairo, Roma, Paris, Berlin, New York, San Fransisco, Dallas, Houston, Rio de Jainero, Brasilia, Manila, Fiji, Port Moresby, Bahrain, Sao Paolo, Osaka, dan Vancouver.

Langkah maju lagi dalam perkembangan daya kreativitasnya adalah terjunnya di kedalam bidang usaha busana jadi. Namun demikian Haute Couture atau adibusana tetap mempesona Iwan Tirta. Banyak yang telah dipublikasikan tentang hal ini di berbagai majalah dunia misalnya : Harper’s Bazaar (edisi Amerika, Januari 1968) Vogue (edisi Perancis, Juli 1971), Australian Women’s Day (Desember 1971), Chic Magazine (November 1973) Architectural Digest (Maret –  April 1975), Maison et Jardin (Juni 1975), Vogue Living (Juni 1975), The New York Times (26 Juni 1975), Asia Weeks (September 1976), Orientique (Maret 1977), Hongkong Standard (November 1978), Living (Februari 1981), Asia Week (April 1981), New York Daily News (Juli 1982), National Geographic (Januari 1989). Berbagai macam kerajinan lain seperti logam mulia (perhiasan tradisional seluruh nusantara untuk mode Indonesia), tenun ikat, songket, dan pelangi serta barang-barang dari kayu, juga piranti makan dengan judul The Phoenix and Peony Flowers. Semua ini telah dikembangkan oleh Iwan Tirta menjadi kreasi-kreasi yang bermutu dan berbobot di dunia internasional.

Iwan Tirta meninggal pada tanggal 31 bulan Juli tahun 2010 di usia 75 tahun.

Prof. Dr. Rahayu Supanggah, S.Kar., Komposer Karawitan

Awal tahun 1965. Tanggal dan bulannya tak ada yang ingat. Bung Karno mengirim misi kesenian Indonesia ke China, Korea dan Jepang. Itu adalah rombongan misi kesenian Indonesia ke China terakhir. Sesudah itu hubungan diplomatik Indonesia-China beku. Di antara orang-orang tua rombongan duta seni negara itu terselip seorang anak kecil penabuh gamelan. Umurnya baru 15 tahun.  Ia biasa dipanggil, Panggah. Panggah kecil terpilih karena bakatnya. Nasib. Sejak saat itu, Panggah tak pernah lagi berhenti menyeberang lautan untuk muhibah seni. Panggah telah menjadi salah satu bagian jaringan seni global masakini. Lahir dari keluarga dalang di Boyolali, 29 Agustus 1949, Rahayu Supanggah yang bapak, ibu, kakek, nenek dan moyangnya adalah dalang, mengaku, sejak kecil tak ingin dan tak bercita-cita menjadi dalang – apa lagi menjadi seniman. Namun yang terjadi adalah kebalikannya. Mulai belajar gamelan di Konservatori Karawitan Surakarta, melanjutkan studi ke Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta (sekarang ISI Surakarta), hingga studi di Universite de Paris VII sampai mendapat gelar Doktor untuk bidang etnomusikologi. Kini, dalam tataran akdemik, panggilannya bukan lagi Panggah – melainkan Prof. Dr. Rahayu Supanggah S.Kar., guru besar, mantan Rektor dan kini Direktur Program Pascasarjana perguruan tinggi seni Indonesia di Surakarta

Sejak tahun 1970-an, ia menempa kemampuannya sebagai pengrawit, komponis, penata musik (arranger), penulis, peneliti, guru, manajer dan  budayawan. Ia mulai menjadi sahabat dekat bagi semua orang yang memerlukan kerjasamanya. Tahun 1972-1974 ia tinggal di Australia sebagai guru karawitan. Tahun 1976 Panggah berkeliling Perancis, Belanda, Swis dan Jerman Barat sebagai seniman. Dengan karya spektakular Gambuh, tahun 1979,  pamornya sebagai komponis dibaiat dalam forum Pekan Komponis-Dewan Kesenian Jakarta. Pada tahun yang sama ia tampil di Royal Albert Hall bersama London Symphonieta Orchestra. Ratusan komposisi, dan penataan musik telah ia ciptakan dalam  berbagai genre seni pertunjukan tari, film, teater, opera, wayang, dan tentu saja musik konser. Diantaranya yang terpenting adalah, Wayang Budha, Gambuh, Sesaji Raja Suya, Keli, Jayaningsih, Passage through the Gongs, Sacred Rhythm, Unraveling the Maya, Realizing Rama, Garap, Paragraph, Song of Beginning, Megalithikum Quantum. Tetapi di samping Wayang Budha, Gambuh dan Passage through the Gongs – karya Panggah yang paling spektakular adalah karya musik untuk teater dan opera Mahabarata, King Lear, I La Galigo, Opera Jawa dan Purnati untuk kwartet gesek dan gamelan. Karya-karya tersebut digarap dengan berbagai seniman lintas negara yang otoritasnya diakui secara luas.

Elly D. Luthan, Koreografer

Elly D. Luthan, pertama kali berkenalan dengan kesenian rakyat di Jember. Selain diwajibkan belajar menari, wayang wong, ketoprak, dan wayang kulit adalah makanannya sehari-hari. “Saya harus nonton wayang kulit semalam suntuk, menghafal ceritanya, dan tidak boleh tertidur,” kenang Elly. Lulus Sekolah Teknik Menengah (STM) pada tahun 1971, Elly yang lahir di Makassar, 27 Juli 1952 berkumpul kembali dengan orang tua kandungnya di Jakarta. Saat itu, ia sudah berikrar untuk berhenti menari karena akan melanjutkan pendidikan formalnya ke Sekolah Tinggi Teknik Nasional (STTN) di Cikini. Namun, ia tak dapat memungkiri nalurinya berkesenian. Tanpa tahu apa artinya menjadi seorang koreografer, ia mulai membuat karya-karya pendek hingga menjadi salah satu penata tari andalan di Taman Mini sampai Istana Negara. Beruntung, Elly yang saat itu juga mengelola PLT Bagong Kussudiarjo di Jakarta, bertemu dengan penari-penari senior seperti Sentot Sudiharto, Retno Maruti dan Deddy Luthan. Maka kesempatan untuk kembali menari pun terbuka lebar sampai akhirnya ia diangkat menjadi pegawai negeri di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta.

Elly banyak belajar dari guru-guru yang sebagian besar adalah seniman tari tradisi antara lain S. Ngaliman, Laksmintorukmi, Retno Maruti, S. Kardjono dan Bagong Kussudiarja. Meski berbasis tari tradisi Jawa, Elly juga terpikat mempelajari tari-tari tradisi non-Jawa. Ketertarikan ini tumbuh sejak ia bertemu dan akhirnya menikah dengan Deddy Luthan.

Bagi Elly, tradisi adalah sebuah inspirasi. “Tanpa tradisi, saya bukan siapa-siapa,” ujarnya. Ia pernah berguru topeng Betawi pada Ibu manik dan Mak Limah, cokek pada Memeh Krawang, blingo pada Haji Saabah, hingga mbah Awiyyah untuk gandrung Banyuwangi. Belajar dari guru-gurunya, ia sadar akan pentingnya kejujuran dan ketulusan dalam menari. Sebagai koreografer wanita, ia banyak mengangkat isu-isu keperempuanan dalam karya-karyanya. Antara lain dalam Kunthi Pinilih (1997), Wisik (1999), Gendari (2000), Tjut Nya’ Perempuan Itu Ada (2003), Drupadi Mulat (2007) dan yang terbaru adalah Banowati, Jalingan Golek (2012). Baginya, setiap karya harus mengandung pesan yang relevan terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat sekarang. Namun ia menghindari penyajian yang kronologis sesuai urutan cerita.

INFORMASI

Alin 0812-90188682 / 0818-819944

Ratih 0818-720830 / [email protected]