Puncak Hari Film Nasional ke-63 Tahun 2013

0
1514

Jakarta, 24 Mei 2013. Kementerian Pariwisatan dan Ekonomi Kreatif menggelar Syukuran dan Puncak Perayaan Hari Film Nasional (HFN) ke-63 tahun 2013 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Jakarta.  
Acara Syukuran dan Perayaan yang sekaligus menutup seluruh rangkaian acara peringatan Hari Film Nasional (HFN) ke-63 tahun 2013 dilaksanakan sejak akhir Maret 2013 lalu, diawali dengan program Diskusi dan Pameran dan mengusung tema “Film Indonesia Cermin Kreativitas Bangsa”.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu menyampaikan saat Press Conference, “Rangkaian kegiatan Hari  Film Nasional digelar untuk selain mendukung gerakan ‘Gerakan Cinta Film Indonesia’, juga dimaksudkan untuk membangkitkan kembali semangat Perfilman Indonesia di tengah sempat menurunnya angka penonton film Indonesia.” 
Mari Pangestu berharap bahwa dalam merayakan hari film ini, segenap pihak, baik pemerintah maupun insan perfilman Indonesia secara terus menerus berefleksi bagaimana dapat mengembangkan perilman Indonesia ke depan. Saat ini dunia perfilman Indonesia, dari segi variasi tema film banyak mengalami kemajuan. Seperti hadirnya film Sang Kyai dan Cinta Brontosaurus baru-baru ini telah memperlihatkan film Indonesia sudah layak dan bisa populer di mata audiens Indonesia. Kenyataan ini merupakan bagian dari kemajuan industri perfilman Indonesia.  Selain itu yang patut menjadi catatan, beberapa produser dari luar negeri yang telah menyampaikan minat besar untuk memproduksi filmnya di Indonesia memperlihatkan bahwa negeri ini kini semakin menarik untuk menjadi lokasi film. Untuk mendukung ini, pemerintah segera membentuk layanan one stop service untuk perijinan produksi film.
Sejumlah tokoh perfilman hadir dalam acara antara lain Christine Hakim, Ikranagara, Tio Pakusadewo, Gope T. Samtani dan Wulan Guritono. Slamet Rahardjo, salah satu tokoh senior perfilman Indonesia menyampaikan, “Seniman film Indonesia dalam kondisi bagaimanapun tetap berkomitmen untuk terus membuat film. Sense of belonging seperti ini adalah sesuatu yang sangat mahal. Apa yang dimiliki oleh seluruh insan film tak lain adalah kreatifitas. Apa pun yang terjadi, kita merayakan hari film setiap hari”. 
Sementara itu, Lalu Roisamri, Ketua Panitia HFN ke-63 menambahkan bahwa sejak Maret sampai April telah dilaksanakan Apresiasi dan Diskusi Film Nasional di tiga kota yaitu Bandung di Sekolah Tinggi Pariwisata, Bali di Institut Seni Indonesia dan Semarang di Hotel Papandayan. Dalam kesempatan acara tersebut juga dimanfaatkan untuk memutar film-film Indonesia kepada peserta. Film-film tersebut antara lain; “Tanah Surga.. Katanya”, “Rumah di Seribu Ombak” dan “Cahaya di Atas Cahaya”.

Syukuran dan Puncak Hari Film Nasional (HFN) ke-63 tahun 2013 menghadirkan sejumlah pertunjukan seni budaya, antara lain pergelaran tari dari Sanggar Tari Institut Kesenian Jakarta serta Orkestra Surya Vista pimpinan Paulus Surya yang membawakan sejumlah komposisi yang terilhami dari film-film Indonesia akan meramaikan acara. Ajang puncak perayaan juga sekaligus menjadi momen pengukuhan anggota baru Parfi kepengurusan 2011 – 2016 oleh Ketua Parfi Gatot Brajamusti di hadapan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.