Topeng Banjar

0
995

The Mask – On Location: Banjarmasin, 11-12 Maret 2013

HAMPIR sebagian besar suku-suku bangsa di Nusantara memiliki tradisi topeng dalam beragam bentuk dan fungsi. Tradisi ini telah mengakar sejak jaman pra-sejarah. Motivasi dibalik penggunaan topeng adalah untuk merepresentasikan ‘diri’ seseorang. Secara umum, bentuk topeng mengacu pada perwajahan manusia, yang diimitasi dengan bahan yang dapat menutupi karakter asli diri si pengguna.

Setiap garis dan goresan yang digambarkan ke dalam topeng merupakan ekspresi yang menerjemahkan sifat-sifat dari individu yang diwakilinya. Sebagai fungsi kultural, sebuah topeng mengandung aspek artistik dan relijius. Secara spiritual, sebuah topeng adalah wahana untuk menyimbolkan konsep keagamaan, bahkan memiliki kekuatan mistis. Sebagaimana yang terakhir, topeng adalah ekspresi simbolis yang timbul oleh reaksi untuk, dan impresi dari alam sekaligus budaya yang melingkupinya. Dari dulu hingga kini, topeng-topeng di Indonesia masih memiliki fungsi relijius dan secara perlahan mulai bergeser ke wilayah artistik.

Program serial The Mask dimulai sejak 2008 berbentuk pentas terbatas (bertempat di Bimasena Club) yang diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan bagi para pelaku/maestro seni topeng tradisi Nusantara yang masih konsisten berkesenian. Program yang dikuratori oleh pakar seni pertunjukan tradisi Deddy Luthan ini setiap tahun mengundang 2 sampai 3 seniman topeng untuk menampilkan kebolehannya di hadapan para pencinta seni budaya di Jakarta. 
Di tahun pertama The Mask menampilkan 2 kesenian topeng yang mulai langka dan 1 kesenian topeng yang masih berperan dalam keseharian masyarakatnya. Ketiga topeng itu adalah Topeng Kedok Tiga Betawi, Wayang Topeng Yogyakarta dan Topeng Pajegan Bali, dimana kesemuanya ditarikan langsung oleh para pelaku tari topeng yang secara intens hidup menggeluti dunia seni topeng. Mereka adalah Kartini Kisam, Lantip Kuswala Daya dan I Made Djimat. Maestro Topeng Indramayu, Mimi Rasinah (alm), kala itu juga hadir untuk menerima bantuan bagi pengobatannya. Pada The Mask ke-2, ditampilkan Topeng Priangan oleh Risyani Nurjaman, dan Topeng Hudoq Kita’ asal pedalaman Kalimantan Timur yang dibawakan oleh penari topeng sepuh, We Pedaan, di usia yang hampir mendekati 90 tahun. Pada The Mask ke-3, kami mengundang komunitas Topeng Dalang dari Madura dan masyarakat adat Simalungun Sumatera Utara untuk menampilan Topeng Simalungun (Toping-Toping dan Huda-Huda).

Memasuki tahun ke-4, kami mulai resah karena para pelaku seni topeng tradisi semakin langka dan semakin sepuh. Mengundang mereka ke Jakarta bukanlah perkara mudah mengingat usia mereka rata-rata sudah diatas 65 tahun. Para maestro ini harus menempuh perjalanan jauh dari tempat mereka berasal di berbagai pelosok Nusantara. Maka, mulai tahun 2013 The Mask akan dilaksanakan dengan mengajak penonton/pencinta seni budaya menyaksikan tradisi topeng yang dibawakan oleh para maestro penjaga warisan tradisi kita, langsung di tempat asalnya.   

Pada The Mask – on Location kali ini, Gelar akan mengajak para pencinta seni budaya untuk berkunjung ke Banjarmasin. Masyarakat Banjar memang tak asing dengan tradisi topeng. Kesenian topeng tradisional Banjar memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari kekuasaan Kerajaan Majapahit. Selain Topeng Banjar yang mengambil siklus Panji, dikenal pula Topeng Wayang Banjar yang mengambil siklus Ramayana dan Mahabharata.

Hingga kini, ritual yang menggunakan topeng ini biasanya dilaksanakan sebagai tolak bala untuk menjauhkan roh-roh jahat. Selain menyaksikan tradisi topeng di tempat asalnya, peserta akan diajak berkenalan dengan salah seorang penjaga tradisi topeng di sebuah kampung bernama Barikin, 135 kilometer utara Banjarmasin ibukota Kalimantan Selatan. Konon, kampung yang dikenal sebagai kampung seniman tradisional Banjar ini dahulu adalah tempat persinggahan para bangsawan Kerajaan Negara Dipa (1387-1495). Di desa ini masih hidup seorang nenek yang telah bergulat hampir seabad melestarikan tari Topeng Banjar bernama Astaliah, berusia 119 tahun. Meski kondisi penglihatannya mulai menurun dan tubuhnya sudah tak mampu bergerak lincah, toh tak menyurutkan semangatnya untuk berbagi kearifan. Kini, jumlah penikmat seni pertunjukan wayang dan tari topeng kian sedikit dan semakin tua. Di tengah segala keterbatasan, seni topeng tetap menggeliat bertahan dari gerusan zaman yang bergerak.

[Program ini dipersembahkan oleh GELAR]

BIAYA :

TRIP-ONLY Rp. 2.200.000,- /orang (sharing 1 kamar berdua)

Biaya sudah termasuk : Transportasi lokal, akomodasi 2 hari 1 malam, makan selama trip, narasumber lokal dan donasi keberlangsungan dan keberlanjutan seni budaya tradisi (biaya tidak termasuk transportasi pulang-pergi Banjarmasin dari tempat asal peserta, kargo, tur tambahan, kelebihan bagasi, laundry dan pengeluaran pribadi lainnya).

Batas akhir pendaftaran & pembayaran TRIP-ONLY : 4 Maret 2013

FULL-TRIP Rp. 3.250.000,- /orang (sharing 1 kamar berdua)

Biaya sudah termasuk : Transportasi Jakarta-Banjarmasin-Jakarta dengan pesawat udara, transportasi lokal, akomodasi 2 hari 1 malam, makan selama trip, narasumber lokal dan donasi keberlangsungan dan keberlanjutan seni budaya tradisi (biaya tidak termasuk kargo, tur tambahan, kelebihan bagasi, laundry dan pengeluaran pribadi lainnya).

Pembayaran FULL-TRIP boleh dilakukan 2 x dengan perincian sbb :

Pembayaran tahap 1 50% dengan batas akhir pendaftaran & pembayaran (DP) : 20 Februari 2013*

Pembayaran tahap 2 (Pelunasan) 50% paling lambat 4 Maret 2013*

*Harga dapat berubah apabila pendaftaran dan pembayaran dilakukan setelah tenggat waktu diatas – karena terkait dengan pemesanan tiket transportasi udara.

Pembayaran 50% tidak dapat dikembalikan apabila calon peserta melakukan pembatalan.

Informasi & Pendaftaran:

Githa

Mobile: 085714296216