Tensimeter Buatan Mahasiswa yang Pertama di Asia Tenggara

0
1761

ADA beragam cara dalam memaknai hari Pahlawan, salah satunya seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa Swiss German University ini. Bertepatan dengan hari pahlawan tanggal 10 November 2012, mahasiswa Swiss German University (SGU) meluncurkan karya hasil riset terbaru mereka berupa alat Tensimeter bebas Mercury, yang untuk model sejenis merupakan yang pertama di Asia Tenggara.
“Mulai 2015 nanti, WHO melarang penggunaan Mercury untuk seluruh alat kesehatan, kami mencoba untuk merespon hal tersebut dengan memberikan solusi berupa alat tensimeter yang bebas Mercury”, ungkap Aulia Iskandar MT, staff pengajar di SGU yang juga pembimbing riset mahasiswa dalam pembuatan alat tensi meter ini.
Sebagaimana diketahui saat ini hampir di semua Rumah Sakit dan tempat pelayanan kesehatan lainnya di Indonesia masih menggunakan alat pengukur tekanan darah yang mengandung Mercury di dalamnya, pelarangan oleh WHO nantinya tentu akan berdampak besar bagi operasional sehari-hari di rumah sakit tersebut.
Berbeda dengan Tensimeter digital yang juga saat ini sudah banyak beredar, Alat tensimeter yang dikembangkan oleh mahasiswa SGU ini merupakan gabungan antara tensimeter manual dan digital “Sehingga para petugas kesehatan nantinya tidak perlu di training dan melakukan penyesuaian lagi karena mereka sudah terbiasa dengan jenis yang seperti ini” tambah Aulia.
Peluncuran hasil karya Mahasiswa ini dihadiri langsung oleh Linda Maura Sitanggang, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia yang hadir mewakili Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi yang berhalangan hadir.
Acara Peluncuran ini dilakukan disela-sela Konferensi Internasional bidang Teknik Biomedika dan Aplikasi  Pengobatan atau International Conference on Biomedical Engineering and Medical Applications yang di langsungkan di German Center, BSD City Tangerang hari ini.
Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Linda Maura Sitanggang, Menteri Kesehatan sangat menyambut baik riset-riset mahasiswa di bidang alat-alat kesehatan, “Nantinya, kita berharap anak-anak Indonesia mampu mengatasi pembatasan-pembatasan oleh badan dunia tanpa bergantung kepada impor alat-alat dari Luar Negeri”, ujarnya.
Alat tensimeter yang dikembangkan selama kurang lebih 4 bulan ini tidak menutup kemungkinan untuk di produksi secara massal, mengingat biaya pembuatan dan materialnya yang sangat terjangkau sehingga biayanya bisa di tekan hingga dibawah 500 ribu rupiah per unitnya, “memberikan solusi kesehatan adalah satu hal, namun memberikan manfaat untuk banyak orang dengan biaya yang murah juga harus diperhatikan, dan itu yang coba kami lakukan” tutup Aulia Iskandar.
Tentang Swiss German University

Swiss German University adalah Universitas swasta bertaraf internasional pertama di Indonesia yang di akui oleh DIKTI. Berdiri sejak tahun 2000, dan merupakan joint effort dari 4 negara yaitu Jerman, Swiss, Austria dan Indonesia. Bahasa pengantar perkuliahan seluruhnya dalam bahasa inggris, dan selama satu tahun mahasiswa akan menjalani program magang di Indonesia dan di Eropa.
Swiss German University memiliki 4 fakultas dan 10 program studi yaitu Mechatronics dan Industrial Engineering di bawah Fakultas Engineering. Information Technology dibawah Fakultas IT, Program Study International Business Administration, Accounting, Hotel and Tourism Management dan Communication and Public relations dibawah Fakultas Business and Humanities, dan terakhir Fakultas Life Science yang memiliki Program study Pharmaceutical Engineering, Biomedical Engineering dan Food Technology.