Solusi Online untuk Business-to-Business

0
558

Eloku, Pouch dan Ticbox sebagai Inovasi Teknologi dan Model Bisnis Baru bagi Industri Logistik dan Ritel untuk Manfaat Konsumen
Catatan Baru dalam Industri Kreatif dan Wirausaha serta Technopreneur Indonesia

Produk business-to-businessberbasis online yaitu Eloku, Pouch, dan Ticbox diluncurkan sebagai salah satu wujud kreativitas dan inovasi wirausaha khususnya technopreneurs Indonesia yang menyasar beragam industri termasuk transportasi logistik dan ritel. Ketiga produk online tersebut merupakan produk yang dikembangkan dan lahir dalam proses mentorship di Jakarta Founder Institute, yang berasal dari Silicon Valley, Amerika Serikat.

Eloku menghadirkan solusi kepada operator logistik atau perusahaan pengiriman, melalui komputasi awan (cloud computing) yang diciptakannya, yang memungkinkan perusahaan logistik, terutama skala kecil, untuk dapat bersaing dengan perusahaan besar tanpa investasi tinggi. Eloku menawarkan sistem yang transparan dan efektivitas kepada konsumen, untuk dapat mengetahui lokasi barang mereka secara real time melalui jaringan komunikasi seluler. Sementara itu Pouch merupakan aplikasi pertama di Indonesia yang berfungsi sebagai perangkat dalam menghadapi kompetisi industri F&B dan ritel yang makin marak, dengan mengintegrasikan program Marketing dan Loyalty. Pouch telah bekerja sama secara ekslusif dengan Central Park Mall Jakarta yang membawa seluruh tenant F&B berjumlah lebih dari 100 (seratus) merchant.

Ticbox sendiri merupakan perangkat survei online yang membantu surveyor ritel atau korporasi dengan menyediakan responden yang diverifikasi secara berkala untuk kepentingan kredibilitas survei. Ticbox berfungsi membantu beragam sektor bisnis yang memerlukan riset yang lebih tajam sebagai basis pembuat keputusan, secara cepat sesuai dengan dinamika bisnis saat ini.

Novistiar Rustandi, Director, Jakarta Founder Institute, mengatakan: “Indonesia saat ini berada dalam masa emas dimana usia produktif lebih besar dari usia non produktif. Di masa ini lah kami ingin mendorong lebih banyak technopreneurs usia produktif hadir di Indonesia untuk merealisasikan usaha berbasis teknologi mereka, sejalan dengan potensi Indonesia. Indonesia memiliki potensi technopreneurs yang baik dan tidak kalah dengan pemain asing yang akan masuk ke pasar Indonesia.”

Jakarta Founder Institute yang berasal dari Founder Institute di Silicon Valley, Amerika Serikat, memberi pembinaan kepada mereka yang ingin menjadi founders atau technopreneur/wirausaha berbasis teknologi. Tujuan utama dari The Founder Institute adalah membantu wirausahawan muda berbakat untuk memulai perusahaan teknologi yang bermanfaat dan bertahan lama (sustainable) dengan pendekatan “great people + world class training + aligned incentives. Program yang dilaksanakan oleh Jakarta Founder Institute merupakan program mentorship (pre-seed incubator) dan bagian dari jaringan global startups, mentors, dan investors, The Founder Institute, yang berawal di Silicon Valley, Amerika. 

Di Jakarta Founder Institute, para founders mendapat bimbingan dari 40 mentor lokal dan internasional, tentang penajaman ide bisnis, pendanaan, Public Relations, legal dan finance. Para mentor termasuk di dalamnya: Izak Jenie (Jatis), Toto Sugiri (Sigma Cipta Caraka), Andy Zain (MobileMonday), Martin Hartono (GDP Ventures), Kartini Muljadi (Kartini Muljadi & Rekan), Andi S. Boediman (Ideosource), Dian Noeh Abubakar (Kennedy, Voice& Berliner), Edi Taslim (Kompas.com), Remco Lupker (Tokobagus.com), Takeshi Ebihara (Batavia Incubator), Adeo Ressi (The Founder Insitute), Andrew Lee (US Small Business Administration), Adrian Suherman (Living Social Company), Sakti Makki (MakkiMakki), Danny Oei Wirianto (Mindtalk), Erik Meijer (Indosat), Rudy Ramawi (Google), Nanda Ivens (Magnivate Group), Stefan Magdalinksi (Multiply.com), Steven Goh (Mig33), dan lain-lain.

Martin Hartono, CEO, GDP Venture, salah satu mentor Jakarta Founder Institute, mengatakan, “Saya bangga kepada anak-anak bangsa yang mempunyai semangat wirusahawan. Dengan semangat, kreativitas, kritis dalam mengolah strategi pasar serta kerja keras menjadi modal yang penting untuk mempertahankan eksistensi wirausaha mandiri berbasis teknologi”.

Dian Noeh Abubakar, Founder & CEO, Kennedy, Voice & Berliner, salah satu mentor menambahkan, “Persaingan bisnis semakin ketat dan perusahaan perlu membangun brand, reputasi dan poin dari diferensiasi untuk bertahan lama dalam kompetisis bisnis. Senang sekali melihat para foundersmemahami perlunya hal ini, untuk tujuan bisnis jangka pendek dan jangka panjang mereka.”

Graduates JFI & Director Jakarta Founder Institute