Malahayati

- Advertisement -
- Advertisement -

Teater Tari “MALAHAYATI” Museum Bahari Jakarta 24 November 2012 – 19.00 WIB  

Sebuah pentas teater tari yang menceritakan kisah perjuangan Malahayati, seorang laksamana perempuan pertama di dunia dari Aceh    

produser GELAR  

koreografer SITI SURYANI

komposer ARMEN SUWANDI

menampilkan CITRA ART STUDIO dan AYUDIA BING SLAMET

penata cahaya YULI BHIMAWAN  

penata suara RANGGA RISTO

penata busana IRINE S. PRINKA

hubungan masyarakat, promosi & admin AULIA, AMANDA SAROSA, PESDOWATI

pimpinan produksi EKO MARYANTO  

supervisi produksi BRAM & KUMORATIH KUSHARDJANTO  

eksekutif produser MUSEUM BAHARI direktur DWI MARTATI

penasehat SYARIFUDIN  

pembimbing R. SUNDHY PRIJONGGO A.R.

kreatif  JOKO SUSILO, DEWI MEILIA SUTANTI, EKA DIPA INDRAGUNA

koordinator lapangan IRFAL G., MURLIANI, MOHAMAD ISA ANSYARI  

Sabtu, 24 November 2012, Museum Bahari Jakarta akan menyelenggarakan pentas teater seni tari berjudul “Malahayati”.

Pentas tari ini diproduseri oleh Gelar, produser seni pertunjukan berbasis tradisi yang sejak 1999 sudah aktif mempromosikan kesenian tradisi Indonesia dengan format yang beragam. Pertunjukan ini digarap oleh Siti Suryani, koreografer muda berbakat, didukung oleh Citra Art Studio, komunitas pencinta seni yang memiliki kepedulian untuk mengembangkan seni budaya Indonesia khususnya tari dan musik.

Penampilan khusus sebagai pemeran Laksamana Malahayati adalah Ayudia Bing Slamet, aktris muda cucu maestro Bing Slamet yang pernah mendapatkan gemblengan dari sutradara Deddy Mizwar.  

“Malahayati” merupakan garapan beberapa bentuk kesenian Aceh yang akan ditampilkan dalam bentuk pentas tari. Seluruh rangkaian kesenian ini akan dipersembahkan dengan tata rias, kostum, dan properti yang merefleksikan masa-masa perjuangan Laksamana Malayahati dibawah pimpinan Sultan al-Mukammil dari kerajaan Aceh.

Pergelaran yang digagas oleh Museum Bahari ini tak lain ingin memperkenalkan kembali sejarah panjang Nusantara, dimana banyak memiliki tokoh-tokoh luar biasa yang patut diteladani.  Indonesia merupakan negeri kepulauan terbesar di dunia, yang juga sekaligus menjadikannya negeri maritim yang tangguh. Namun sayang sekali, fakta dan data sejarah kejayaan kita sebagai negeri maritim kurang dikenal oleh masyarakat.

Untuk itulah Museum Bahari mengangkat tokoh Malahayati sebagai figur yang patut diteladani, dimana kisah perjuangannya melawan penjajah serta semangatnya untuk pantang menyerah dapat menginspirasi kita semua. Malahayati mengingatkan kita bahwa kita pernah memiliki seorang perempuan pejuang yang tangguh, bahkan tercatat dalam sejarah sebagai laksamana perempuan pertama di dunia. Meski Malahayati hidup di abad ke-16, ia telah melangkah melampaui jamannya.    

MALAHAYATI; Laksamana Wanita Pertama di Dunia.

Ambisi Laksamana Malahayati untuk berperang berawal dari tewasnya suami beliau di salah satu pertempuran melawan Portugis di Selat Malaka. Sejak suaminya meninggal dunia, ia bertekad untuk melanjutkan perjuangan suaminya sebagai panglima. Untuk menjalankan tekadnya, Laksamana Malahayati membentuk armada Aceh yang terdiri dari wanita-wanita janda yang suaminya juga meninggal dunia dalam pertempuran. Ia pun diangkat menjadi laksamana dan memimpin armadanya yang ia beri nama Inong Balee.

Malahayati adalah wanita pertama di Kesultanan Aceh Darussalam dan di dunia yang pernah diangkat menjadi seorang laksamana. Armada Inong Balee yang berawal dari 1000 pasukan pun terus berkembang dan bertambah kuat. Mereka pun membangun pangkalan militer di Teluk Lamreh Krueng Raya, dan menyebutnya Benteng Inong Balee.

Pada Juni 1606, Kesultanan Aceh Darussalam diserang oleh Portugis yang pasukannya dipimpin oleh Alfonso de Castro. Saat itu, Darmawangsa Tun Pangkat, kemenakan Sultan Ali Riayat Syah yang pada saat itu memimpin kerajaan Aceh sedang terperangkap di penjara atas perintah Sultan sendiri. Setelah mendengar kabar penyerangan oleh Portugis, Darmawangsa meminta Sultan untuk membeskannya agar bisa ikut bertempur melawan Portugis.

Berkat pertolongan Laksamana Malahayati, permintaan tersebut pun akhirnya dikabulkan oleh Sultan. Darmawangsa dan Laksamana Malahayati pun bekerja bersama untuk bertempur melawan pasukan Portugis.    

Setelah mereka berperang melawan Portugis, Laksamana Malahayati mengambil gerakan untuk menurunkan Sultan Ali Riayat Syah yang dianggap tidak cakap dalam memimpin. Darmawangs pun akhirnya mengambil alih tahta kerajaan dan diangkat menjaid sultan dengan gelar Sultan Iskandar Muda, yang kemudian membawa Kesultanan Aceh Darussalam ke masa kejayaannya.

Kisah perjuangan Panglima Malahayati bertempat pada abad ke-15 dimana kepercayaan pada masa itu bahwa kaum wanita seharusnya dipimpin oleh laki-laki, terutama di daerah dengan keyakinan Islam yang kuat. Namun karena jiwa Laksamana Malahayati yang tangguh dalam memperjuangkan kejayaan Aceh, perjuangan seorang panglima wanita pun dapat dihargai dan Laksamana Malahayati diangkat sebagai laksamana wanita pertama di dunia.  

Museum Bahari

Museum Bahari adalah tempat yang pantas untuk mempelajari sejarah kelautan di kota Jakarta. Berlokasi di salah satu teluk di Sunda Kelapa, Jakarta Utara, museum ini dibangun dari gudang-gudang peninggalan VOC yang beberapa sudah direnovasi.

Pada zaman penjajahan Belanda, teluk dimana gudang-gudang VOC terletak adalah salah satu jalur terbesar untuk perdagangan rempah-rempah, yang membuat bangunan-bangunan ini sempurna untuk dijadikan Museum Bahari. Dengan koleksi sekitar 126 benda-benda sejarah maritim, termasuk kapal-kapal dan perahu-perahu tradisional asli. Misi utama Museum Bahari menampilkan pergelaran tari “Malahayati” adalah untuk mempromosikan museum kepada masyarakat yang lebih luas, dan membangun lebih jauh ketertarikan masyarakat terhadap sejarah kelautan Indonesia.  

Gelar

GELAR adalah sebuah lembaga yang memiliki komitmen kuat untuk memperkenalkan seni budaya Indonesia tidak hanya di Indonesia, juga ke kancah yang lebih luas di dunia. Sejak tahun 1999, GELAR telah mempersembahkan berbagai bentuk kesenian tradisional hingga ke panggung mancanegara dalam lebih dari 70 kali produksi.

Tidak hanya sekadar mementaskan karya-karya para seniman tradisi kita, GELAR juga berbagi dengan para seniman tradisi untuk mengembangkan bisnis seni pertunjukan, aktif menjual dan mempromosikan berbagai produksi seni tradisional, mendokumentasikan dan menyebarluaskan kebudayaan asli Indonesia dan mengembangkan berbagai program untuk mendekatkan dan mempromosikan kesenian tradisi langsung ke masyarakat dengan mengajak serta berbagai komunitas masyarakat dari berbagai kalangan dan profesi untuk menyaksikan kebudayaan tradisi tersebut langsung di tempatnya serta turut merasakan panggung-panggung seni pertunjukan dengan turut serta tampil bersama para seniman tersebut.  

Koreografer

Siti Suryani adalah koreografer muda berbakat yang mempelajari tari tradisi di bawah gemblengan para seniman besar dan pelaku tari tradisi. Murid pasangan koreografer Deddy dan Elly Luthan ini juga pernah terlibat dalam berbagai karya seniman tari lainnya seperti Tom Ibnur, Irianto Catur, Entong Sukirman, dan lain sebagainya. Sebagai koreografer, Siti Suryani cukup produktif. Beberapa karyanya antara lain Tikar Terbentang Dendang Menghilang (Melayu), Zapin Lenggang Kipas (Melayu), Bedagai (Melayu), Indang (Minang), Nindak Rembati (Betawi) dan Tortor Mangalap Tondi (Batak).

- Advertisement -

Latest news

- Advertisement -

Related news

- Advertisement -